Seringkali, perempuan lebih berinisiatif dalam memulai sebuah keluarga dibanding pasangan prianya. Ini karena perempuan memiliki siklus biologis yang memberikan tanda tertentu. Terlepas seorang perempuan subur atau tidak, biasanya mereka mengenali siklus kewanitaannya masing-masing dan mengikuti siklus tersebut dalam merencanakan kehamilan. Mereka juga berusaha menambah pengetahuan tentang kehamilan lewat bacaan atau berbincang dengan temannya.


Sementara itu, pria tidak terlalu peduli dengan hal seperti ini. Mereka butuh diyakinkan apabila sudah waktunya meminta nasihat dokter. Gagasan bahwa mereka mungkin berkontribusi dalam kesulitan kehamilan akan menggoncang kepercayaan diri mereka dan citra maskulinitas mereka.


Jika sedang menghadapi masalah seperti ini, perlakukan pasangan pria Anda dengan bijak. Pertanyaannya adalah bagaimana. Pria tidak begitu nyaman berdiskusi mendalam tentang sebuah relasi. Sama halnya dengan membahas masalah kesuburan. Harus dapat dipahami bahwa banyak pria menyamakan kesuburan dengan kejantanan, yang terikat dengan citra diri mereka.