Beberapa studi mengatakan ketidaksuburan merupakan salah satu diagnosa paling menyedihkan bagi pasangan yang merindukan kehadiran buah hati di tengah-tengah keluarga. Tekanan dari dalam dan luar keluarga tidak membantu menyelesaikan masalah, malah justru menambah stres bagi pasangan tersebut. Program bayi tabung diharapkan menjadi solusi untuk masalah ketidaksuburan ini.

 

Bagi kebanyakan orang, program bayi tabung merupakan proses yang harus dilalui oleh wanita. Wanita yang harus mendongkrak hormonnya, yang harus meminum obat-obatan dan mengatasi masalah psikologis akibat obat-obatan tersebut. Wanita juga yang harus menjalani anestesi untuk diambil sel telurnya. Pria, seringkali hanya dianggap sebagai donor sperma dan sumber dana. Perannya berhenti sampai di situ.

 

Padahal, peran suami tidak dapat dibatasi begitu saja. Sebagai kepala rumah tangga, tugas suami sebagai pengemban dana merupakan hal yang tidak mudah. Program bayi tabung bukanlah pengeluaran kecil, pun dengan risiko kegagalan yang besar. Penelitian mengatakan, hanya 1 dari 5 percobaan bayi tabung dinyatakan berhasil, sehingga akan ada setidaknya 80% risiko gagal. Di banyak situasi, pasangan akan mencoba program bayi tabung ini berkali-kali sampai membuahkan hasil. Ini berarti suami harus mencari dana yang cukup signifikan demi keberhasilan program ini.

 

Di sisi lain, program bayi tabung mengharuskan wanita untuk menjalani terapi hormon demi mempersiapkan kehamilan. Terapi hormon ini mengakibatkan wanita mengalami pergolakan emosi yang luar biasa. Pada banyak kasus, banyak suami yang mengalami kekerasan fisik dan verbal akibat terapi hormon yang dijalani oleh istrinya.

 

Banyak pria yang memilih untuk berdiam diri dan pasrah menghadapi pergolakan emosi istrinya. Padahal, menurut para ahli, sebaiknya tidak demikian. Pria harus memiliki output sendiri untuk berbicara tentang masalah seputar program bayi tabung ini, semisal keluarga atau teman terdekatnya. Bahkan dalam kondisi ekstrim, sang suami harus memiliki psikiater tersendiri untuk membantu mengatasi tekanan psikologis semasa menjalani program bayi tabung ini.

 

Suami harus berperan aktif dalam menjalani program bayi tabung. Jika sang istri lebih banyak aktif dalam sisi medis, suami harus berperan sebagai pendukung istri secara psikologis. Dengarkan semua keluhan istri dengan sabar, bantu pekerjaan rumah, dan lakukan penelitian sendiri untuk membantu berempati dengan proses yang dilalui oleh sang istri adalah beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh suami untuk mendukung kelancaran program bayi tabung ini.

 

 

Source

Video shared by Sherman J. Silber, M.D. of The Infertility Center of St. Louis. Extracted from: www.infertile.com/ivf/ivf-explained-chapter-7-the-husbands-role/