Karol dan Andri (bukan nama sebenarnya) sedang senang-senangnya memamerkan bayi mereka, Adelaide, 11 bulan. Adelaide adalah bayi yang sudah bertahun-tahun ditunggu kehadirannya dan perjalanan mendapatkannya tidaklah mudah. Inilah penuturan Karol (38 tahun).

Saat saya dan Andri menikah, kami ingin segera punya anak. Karena itu, kami tidak menggunakan kontrasepsi. Namun, harapan itu tak kunjung datang karena alasan ketidaksuburan yang sebabnya tidak diketahui.

Siklus menstruasi saya normal, berulangkali saya mengira saya hamil tapi dokter tidak terlalu yakin. Akhirnya saya diresepkan obat stimulasi ovulasi. Saya harus meminum obat itu selama enam bulan, tidak boleh lebih karena dalam jangka waktu lama, obat itu dapat meningkatkan risiko kanker ovarium.

Enam bulan berlalu dan tetap tidak ada hasil. Berbagai tes kami jalani misalnya laparaskopi untuk mengetahui apakah tuba falopi saya tersumbat atau tidak. Juga X-Ray termasuk memasukkan semacam cairan ke dalam rahim dan tuba falopi untuk mengetahui kemungkinan adanya abnormalitas.

Semua terapi itu membuat kami lelah. Mungkin juga karena harapan kami seakan semakin tipis atau kami semakin bingung apa masalah ketidaksuburan yang sebenarnya kami alami. Kemudian kami melakukan tiga kali inseminasi buatan, sperma suami yang terbaik disuntikkan ke dalam rahim saya. Inipun tidak membuat saya hamil.

Mencoba program bayi tabung

Akhirnya dokter mennyarankan untuk mencoba program bayi tabung. Ini adalah satu-satunya cara medis yang tersisa dalam upaya kami memiliki anak. Jika cara ini tidak juga berhasil, artinya kami harus mempertimbangkan mengadopsi anak.

Dokter mendorong agar kami bertemu dengan pasangan-pasangan senasib dan membentuk satu grup untuk saling mendukung dan berbagi. Sepanjang perawatan dan pemeriksaan, saya merasa cukup tenang dan positif. Kami ditawarkan jasa konseling tapi dengan adanya teman-teman senasib, kami merasa tidak membutuhkan itu.

Awalnya saya pikir program bayi tabung tidak mungkin gagal. Ternyata saya salah. Kami harus menjalani tiga kali percobaan sampai akhirnya berhasil di percobaan keempat. Pada percobaan ketiga, saya berhasil mempertahankan kehamilan sampai usia lima minggu. Tapi kemudian saya keguguran. Anda tak akan bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan kami saat itu terjadi.

Di percobaan ketiga itu, kami memiliki teman dekat yakni tiga pasangan lain yang sedang mencoba program yang sama di waktu yang bersamaan dengan kami.  Mereka semua berhasil hamil dan melahirkan. Saya tidak!

Akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan embrio yang telah dibekukan selama empat bulan sebelumnya dari percobaan terakhir pembuahan terakhir. Kami tahu bahwa tingkat keberhasilan turun menjadi 10% dengan menggunakan embrio beku.


Bayi itu milik kami

Aku menjadi sangat emosional pada hari menjalani tes kehamilan mandiri. Saya yakin kali inipun tidak akan berhasil. Saya naik ke lantai atas, meneteskan cairan urine ke alat tes dan bidang putih berubah menjadi merah muda dengan dua strip. Saya hamil! Andri menyusul ke atas dan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya sungguh tidak bisa dilukiskan.

Pada minggu ke sembilan, lagi-lagi saya terancam mengalami keguguran dan harus mendapat tiga kali suntikan progesteron dalam sehari selama 15 minggu. Untungnya suami saya sangat membantu dan mendukung.

Adelaide adalah bayi yang sangat besar. Beratnya mencapai 4,8 kg sehingga saya harus melahirkan dengan cara Caesar. Enam minggu pertama kehidupannya di dunia, ia nampak seperti selalu tidur dan wajahnya begitu bahagia.

Saya tidak pernah berpisah dari Adelaide sejak ia lahir. Orangtua lain kadang membutuhkan waktu untuk bersantai, tapi saya belum menginginkan hal tersebut. Mengingat betapa sulitnya perjuangan dan betapa kecilnya kemungkinan keberhasilan kami waktu itu, membuat Adelaide semakin berharga. Saya tidak ingin berpisah darinya walau hanya untuk sedetik.
 

http://www.babycentre.co.uk/a552766/real-lives-ivf-was-the-only-road-left-to-travel#ixzz3i2IDAHfQ

 

KISAH NYATA : KETIKA BAYI TABUNG MENJADI SATU-SATUNYA CARA