Survei mengatakan, pasien yang sedang menjalani program bayi tabung mengalami stres yang sama besarnya dengan hal-hal besar kehidupan lainnya, seperti kematian atau perceraian. Tekanan semacam ini seringkali disebabkan oleh keadaan awal dari calon Ibu saat sebelum menjalani program ini.

 

Kondisi psikologis berdampak ganda. Banyak penelitian mengatakan bahwa rendahnya kesuburan, atau infertility, bersumber dari stres. Setidaknya satu dari tiga kasus ketidaksuburan pada wanita disebabkan oleh stres, 10% kasus ketidaksuburan pada pria disebabkan oleh stres, sedangkan sisanya, sebanyak 10-20% ketidaksuburan disebabkan oleh faktor lainnya.

 

Tapi sementara kondisi psikis berdampak besar pada ketidaksuburan, pasien yang telah dinyatakan tidak subur mengalami tekanan yang lebih besar lagi. Satu studi menyatakan bahwa paling tidak 50% wanita dan 15% pria menyatakan bahwa diagnosa ketidaksuburan mereka merupakan hal yang paling mengecewakan yang pernah mereka alami. Studi lain yang diikuti oleh 488 wanita Amerika mengatakan, diagnosa ketidaksuburan memiliki peringkat yang sama beratnya dengan diagnosa penyakit berbahaya, seperti kanker, hipertensi, atau penyakit jantung.

 

Oleh sebab itu, penting untuk calon Ibu yang akan menjalani program bayi tabung untuk menjaga kondisi psikologis mereka, karena hal ini berdampak pada kondisi kesuburannya pada masa, sebelum, saat, dan sesudah menjalani program bayi tabung - terlepas dari sukses atau tidaknya program tersebut.

 

Alice Domar, Ph.D, Executive Director dari Domar Centre for Mind/Body Health mengatakan, “penyebab utama pasangan keluar dari program bayi tabung adalah faktor psikologis, sehingga apapun yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi faktor tersebut akan membantu mereka untuk terus melanjutkan program ini dan meningkatkan kemungkinan keberhasilan program”.

 

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres saat akan menjalani program bayi tabung. Perencanaan yang matang, komunikasi yang baik dengan pasangan menjadi dua kunci utama dalam mengatasi permasalahan psikologis ini. Seringkali, pasangan menjalani sesi terapi khusus untuk menekan faktor psikologis yang mungkin terjadi. Dukungan dari orang-orang terdekat juga dapat membantu mengurangi stres.

 

 

Source

Leiblum SR, Kemman E, Lane MK. The psychological concomitants of in vitro fertilization. J Psychosom Obstet Gynaecol 1987; 6: 165-178

Hynes GJ, Callan VJ, Terry DJ, Gallois C. The psychological well-being of infertile women after a failed IVF attempt: the effects of coping. Br J Med Psychol 1992; 65: 269-278